LOMBOK TENGAH – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Tengah menyoroti sejumlah isu strategis dalam momentum peringatan Hari Jadi ke-81 Kabupaten Lombok Tengah tahun 2026. Salah satunya terkait dengan pemulihan Rumah Adat Sade pascakebakaran.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Lombok Tengah, HL. Ramdan, S.Ag, dalam rapat paripurna DPRD dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-81 Lombok Tengah, sekaligus penyampaian penjelasan pemerintah daerah terhadap Nota Keuangan dan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang APBD Tahun Anggaran 2027, Rabu (14/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Ramdan menegaskan, peringatan hari jadi daerah tidak semestinya hanya menjadi agenda seremonial. Momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap perjalanan pembangunan, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan pembangunan yang merata dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, Lombok Tengah telah menunjukkan berbagai potensi dan capaian pembangunan yang patut disyukuri. Namun, berbagai tantangan masih membutuhkan kerja keras, kebersamaan, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Peringatan Hari Jadi ke-81 ini hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, mengoptimalkan potensi daerah, serta memastikan setiap kebijakan dan program pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Ramdan.
Ia menjelaskan, di tengah peringatan hari jadi daerah, DPRD turut menyampaikan keprihatinan atas musibah kebakaran yang menimpa Rumah Adat Sade, salah satu warisan budaya masyarakat Sasak sekaligus destinasi wisata unggulan di Lombok Tengah.
Ia menyampaikan simpati kepada masyarakat yang terdampak dan berharap proses penanganan serta pemulihan dapat berjalan dengan baik, sehingga aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat setempat kembali pulih.
“Kami menekankan pentingnya memperhatikan keaslian bangunan, nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat Sasak dalam proses pemulihan,” tegasnya.
Baginya, Rumah Adat Sade bukan sekadar bangunan fisik, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Musibah ini diharapkan menjadi pengingat bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkuat upaya pencegahan bencana, serta menjaga kelestarian aset budaya yang menjadi kebanggaan daerah,” pungkasnya. |df
