NUSA DUA, BALI – Harapan umat non muslim untuk memiliki sarana ibadah di kawasan The Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), bakal segera terwujud. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah bersama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) akan menyiapkan lahan untuk pembangunan sarana ibadah bagi umat beragama di kawasan tersebut.
Untuk mengetahui pola pengelolaan sarana ibadah dalam satu kawasan atau kompleks, Bupati Lombok Tengah H.L. Pathul Bahri mengajak anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lombok Tengah melakukan studi tiru ke kawasan ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Rombongan turut diikuti Sekretaris Daerah Lombok Tengah, Kepala Bakesbangpoldagri dan anggota MUI Kabupaten Lombok Tengah. Turut mendampingi GM ITDC Mandalika Lombok Pari Wijaya, TGH L. Habiburokhman Faisal pimpinan Ponpes Manhalul Ulum Praya, TGH L. Tamin pimpinan Ponpes Berangsak Praya serta sejumlah tokoh agama lainnya.
GM ITDC Nusa Dua I Made Wijatmika menyampaikan apresiasi atas kunjungan rombongan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan FKUB ke kawasan Nusa Dua.
Menurutnya, ITDC Nusa Dua Bali akan terus memberikan dukungan dan menjadi penopang perkembangan ITDC Mandalika.
“Kami berharap program ini berjalan lancar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpoldagri Kabupaten Badung, I Putu Mas Arimbawa, mengatakan apa yang diprogramkan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah merupakan langkah yang sangat baik.
Menurutnya, sikap toleransi yang tinggi dan koordinasi dengan FKUB menjadi prasyarat utama untuk mewujudkan kerukunan umat beragama.
“Membina kerukunan umat beragama sangat penting. Terlebih lagi seluruh umat beragama ada, sehingga wajib menyiapkan sarana ibadah masing-masing umat beragama,” katanya.
Ia menjelaskan, wisatawan mancanegara yang datang ke suatu daerah berasal dari berbagai latar belakang agama. Karena itu, fasilitas ibadah perlu disiapkan agar setiap wisatawan dapat menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
“Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke daerah kita bukan dari satu agama, melainkan berbagai umat beragama. Maka harus kita siapkan untuk mereka beribadah sesuai kepercayaannya masing-masing,” jelasnya.
GM ITDC Mandalika Pari Wijaya kemudian menjelaskan secara detail desain dan konsep pengembangan kawasan ITDC Nusa Dua. Pria asal Bali tersebut sangat mengetahui seluk-beluk Nusa Dua dan konsep pengembangannya karena pernah bertugas selama puluhan tahun di ITDC Nusa Dua.
Menurutnya, kompleks ibadah umat beragama yang diberi nama Puja Mandala telah menjadi ikon internasional dalam penerapan kerukunan antar umat beragama.
Ia menjelaskan, ITDC saat ini mengelola tiga kawasan, yakni Nusa Dua, Mandalika dan Kolomori (Labuan Bajo). Nusa Dua telah berkembang selama sekitar 53 tahun, sedangkan pengembangan Mandalika dimulai sejak 2008.
“Mandalika sudah mencapai the best tourism dan akan terus berkembang dengan dukungan ITDC Nusa Dua,” katanya.
Ia menjelaskan, masing-masing kawasan memiliki karakter pengembangan berbeda. Nusa Dua ditopang oleh seni dan budaya, sementara Mandalika ditopang oleh alam, olahraga dan pariwisata.
“Kalau di Mandalika event yang ditampilkan adalah balap motor, namun Nusa Dua adalah MICE,” jelasnya.
Mandalika saat ini fokus dikembangkan sebagai kawasan sport entertainment tourism. ITDC memiliki visi menjadi pengembang investasi kelas dunia dengan menghadirkan fasilitas berstandar internasional, salah satunya MotoGP.
“Di Mandalika juga kita sedang bangun empat bidang bisnis seperti pengelolaan, pemilik atau owner, utilitas dan conservation center. Ini untuk membangun kepercayaan investor,” katanya.
Saat ini, lanjut Fari, terdapat 29 investor di kawasan Mandalika. Jumlah tersebut diproyeksikan akan terus bertambah seiring dengan perkembangan kawasan.
“Ke depan juga bertambah investor, di mana Pantai Ann Kuta juga akan dibangun hotel bintang lima,” jelasnya.
Ia menambahkan, di kawasan ITDC Nusa Dua terdapat lima sarana ibadah yang berada dalam satu kawasan Puja Mandala. Menurutnya, masterplan kawasan akan direview setiap lima tahun untuk memastikan pengembangan tetap sesuai dengan perkembangan zaman.
“Di Mandalika juga direview tiap lima tahun sekali,” ujarnya.
Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Badung, Wayan Soroni, mengatakan Puja Mandala memiliki arti sebagai sebuah area pusat ibadah. Menurutnya, pemerintah wajib memberikan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh umat beragama.
Sementara pengaturan sarana ibadah di kawasan tersebut merupakan kewenangan pengelola.
“Desainnya pun diatur oleh pengelola,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Lombok Tengah H.L. Firman Wijaya mengatakan, sejatinya Bupati Lombok Tengah H.L. Pathul Bahri yang memimpin langsung pertemuan tersebut. Namun, Bupati tidak dapat hadir karena pesawat dari Jakarta menuju Bali dibatalkan akibat erupsi Gunung Krakatau.
Menurut Firman, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah telah memikirkan pembangunan pusat ibadah umat beragama di kawasan The Mandalika. Bupati Lombok Tengah juga berharap pembangunan tersebut dapat segera direalisasikan.
“Kami berdiskusi tentang kawasan ibadah ini dan kami punya lokasi, yakni kawasan ITDC. Mudah-mudahan ITDC memberikan kita lahan,” ujarnya.
Firman mengatakan, jika melihat luas areal yang tersedia, kawasan ITDC Nusa Dua memiliki lahan sekitar 1,8 hektare untuk sarana ibadah, sementara kawasan Mandalika memiliki potensi lahan yang lebih luas.
“Kami usulkan empat hektare untuk enam agama, yakni agama Islam, Hindu, Buddha, Kristen Katolik, Kristen Protestan dan Khonghucu. Desain kawasan sarana ibadah akan kita bahas nanti,” ungkapnya.
Menurut Firman, hal yang luar biasa dari Bali adalah adanya tenggang rasa, saling menghormati dan menghargai antarumat beragama.
“Siapa yang bangun? Yang bangun adalah umat beragama masing-masing,” jelasnya.
Terkait lokasi pembangunan, Firman mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari ITDC. Namun, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah berharap lokasi tersebut berada tidak jauh dari kawasan premium dan Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika.
“Itu nanti sarana ibadah tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi memberikan kebanggaan bagi kita semua,” katanya.
Untuk diketahui, jumlah penonton MotoGP di Mandalika setiap tahun mencapai lebih dari 150 ribu orang. Namun, hingga saat ini pemerintah daerah baru dapat menyediakan masjid, sedangkan sarana ibadah umat beragama lainnya belum tersedia.
“Mudah-mudahan segera terealisasi sehingga umat beragama lainnya bisa beribadah,” pungkasnya. |red
