Nursiah Desak BWS NT I Normalisasi Sungai

LOMBOK TENGAH – Wakil Bupati Lombok Tengah (Loteng), HM. Nursiah mendorong Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I untuk segera melakukan normalisasi sungai sebagai langkah pencegahan banjir susulan di wilayah Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya.

Menurutnya, banjir yang terjadi disebabkan oleh luapan sungai dan saluran akibat sedimentasi yang cukup parah.

“Rata-rata persoalannya adalah sedimentasi,” kata Nursiah.

Ia menegaskan, penanganan banjir tidak cukup dilakukan secara insidental, melainkan membutuhkan kebijakan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, Pemda menyatakan siap mendukung penuh program normalisasi sungai yang menjadi kewenangan BWS Nusa Tenggara I.

“Itu kewenangan BWS. Kami dari daerah siap mendukung kebijakan dan program tersebut,” ujarnya.

Selain normalisasi sungai, ia juga menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat terkait upaya antisipasi bencana. Menurutnya, Loteng telah memiliki desa siaga bencana serta kader-kader kebencanaan yang perlu dioptimalkan perannya.

“Ada desa siaga bencana dan kader yang sudah kita bentuk. Sekarang yang terpenting adalah menangani dulu dampak banjir yang terjadi,” jelasnya.

Normalisasi sungai dinilai menjadi solusi jangka panjang mengingat kondisi sungai saat ini mengalami berbagai persoalan, mulai dari pendangkalan hingga alih fungsi. Sungai kerap dijadikan tempat pembuangan sampah, bahkan tidak sedikit bangunan yang berkembang hingga ke badan sungai, sehingga menyebabkan penyempitan alur air.

“Itulah pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat agar sungai tetap dijaga fungsinya,” tegasnya.

Ia menegaskan, pihaknya akan kembali melakukan koordinasi dengan BWS Nusa Tenggara I guna membahas langkah-langkah konkret dalam penanganan dan pencegahan banjir ke depan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng, Ridwan Ma’ruf menyebutkan, jumlah warga terdampak banjir mencapai sekitar 300 kepala keluarga (KK). Rinciannya, 250 KK berada di Desa Kabul dan 50 KK lainnya di Dusun Torok Aik Belek.

Menurutnya, lokasi terdampak paling parah berada di Dusun Kending Sampi, Desa Kabul, yang selama ini memang dikenal sebagai wilayah rawan banjir.

“Dusun itu memang langganan banjir,” jelasnya.

Ia menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan yang cukup tinggi serta pendangkalan sungai, meski sebelumnya sudah dilakukan revitalisasi oleh dinas terkait. Selain itu, aktivitas penggundulan bukit saat musim kemarau juga turut memperparah kondisi.

“Ketika hujan turun, air membawa lumpur, tanah, dan sisa potongan kayu yang akhirnya menyumbat aliran sungai,” beber Ridwan.

Ia memastikan kondisi banjir saat ini mulai berangsur surut meski masih terdapat genangan di sejumlah titik. BPBD juga akan kembali turun ke lapangan untuk melakukan asesmen lanjutan guna memastikan tidak ada tambahan warga terdampak.

“Korban jiwa tidak ada. Data sementara tadi malam sekitar 300 KK,” ujarnya.

Ridwan juga mengingatkan masyarakat agar dapat membedakan antara banjir dan air tergenang akibat hujan deras. Menurutnya, tidak semua genangan dapat dikategorikan sebagai banjir.

“Kadang karena panik, begitu air masuk rumah langsung disebut banjir. Padahal itu hanya air tergenang yang lewat dan akan surut dalam waktu satu sampai dua jam setelah hujan reda,” pungkasnya. |df

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *