LOMBOK TENGAH – Ketua Satgas Makanan Bergizi Gratis (MBG) Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, meminta seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya mengejar target distribusi dalam menjalankan program MBG.
Menurutnya, setiap makanan yang disiapkan harus memenuhi standar kualitas, aman dikonsumsi, menyehatkan dan mampu membangun kepercayaan masyarakat.
“Kita harus menyadari bahwa tugas kita bersama. Sebagai SPPG, kita sedang melaksanakan tugas dan amanat. Makanya kita harus menyediakan MBG yang berkualitas, yang aman, yang menyehatkan dan dipercaya,” ujar Firman dihadapan KSPPG, Rabu, (16/9) di Balroom Kantor Bupati Loteng.
Ia menekankan, MBG yang diberikan kepada anak-anak harus benar-benar menjadi makanan yang dinantikan. Jangan sampai makanan hanya selesai diproduksi, kemudian dibagikan ke sekolah tanpa memastikan makanan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat.
“Bagaimana kita membuat MBG ini dirindukan oleh masyarakat. Bukan MBG yang dibagikan, kemudian hanya dihitung oleh pihak sekolah, dibuka tasnya, dibuka rantangnya, lalu diletakkan begitu saja. Bukan itu. Tapi harus dirindukan,” tegasnya.
Firman mengaku pernah merasakan program pemberian makanan tambahan di sekolah pada masa lalu. Meski bentuknya sederhana, program tersebut menurutnya mampu meninggalkan kesan bagi anak-anak.
“Sekitar tahun 60, MBG ini pernah ada dalam bentuk minimalisnya. Mungkin bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir pernah mengalami. Selama dua bulan hanya kacang-kacangan dan susu setiap hari, Jumat dan Sabtu,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa program makanan untuk anak-anak bukan hanya mengenai berapa banyak makanan yang berhasil didistribusikan. Lebih dari itu, harus ada manfaat dan pengalaman positif yang dirasakan penerima.
“Jangan hanya ingin menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. Kalau kita menyelesaikan tugas sampai output itu, tapi harus ada rasa. Kita upayakan bahwa MBG yang kita kirim itu akan disantap, akan menjadi bagian untuk membentuk anak-anak kita,” katanya.
Firman juga meminta berbagai persoalan yang terjadi dalam pelaksanaan MBG menjadi bahan evaluasi bersama. Terlebih, program tersebut merupakan program nasional yang menyentuh masyarakat dalam jumlah besar. Ia menilai, persoalan keamanan pangan harus menjadi perhatian serius agar kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tetap terjaga.
“Ini adalah program yang baik, program yang sangat baik. Makanya ketika saya diwawancara, saya ingin teman-teman media sampaikan kabar baik. Ini program yang sangat bagus,” ungkapnya.
Menurut Firman, MBG merupakan program yang untuk pertama kalinya dijalankan secara masif dalam skala besar. Karena itu, seluruh pihak memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
“Bagaimana kita bisa mempertahankan kepercayaan ini. Jangan sampai tanpa kita sadari, kepercayaan itu hilang,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Firman juga menyinggung data kasus yang berkaitan dengan keamanan pangan sepanjang 2026. Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat enam kasus yang menjadi perhatian terkait keamanan pangan.
“Sepanjang 2026 ini ada enam kasus yang berpersoalan pada keamanan pangan atau food safety,” jelasnya.
Ia menegaskan, setiap kejadian harus menjadi bahan pembelajaran dan evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali terjadi. Sebab, makanan yang disiapkan melalui program MBG dikonsumsi oleh anak-anak yang harus mendapatkan makanan aman dan bergizi.
“Jangan sampai kita hanya melihat ini sebagai pekerjaan. Di balik makanan yang kita siapkan, ada anak-anak dan ada orang tua yang menitipkan kepercayaan kepada kita,” pungkasnya. |df
