LOMBOK TENGAH – Usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebanyak 352 siswa dari lima sekolah di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, diduga mengalami gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan penanganan medis di empat puskesmas.
Para siswa mengeluhkan sejumlah gejala, di antaranya mual dan sakit perut. Mereka kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Lima sekolah yang terdampak yakni SDN Beber, SDN Repok Puyung, SDN 2 Lendang Tampel, MTs Qudwatun Hasanah dan SDN Mertak Kesambik, Kecamatan Batukliang.
Berdasarkan data penanganan, sebanyak 124 siswa dibawa ke Puskesmas Aik Darek, 144 siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Pringgerata, 67 siswa dibawa ke Puskesmas Mantang, dan 17 siswa lainnya mendapat perawatan di Puskesmas Bagu.
Hampir seluruh siswa yang sempat mendapatkan penanganan medis tersebut kini telah diperbolehkan pulang.
Satgas Program MBG Lombok Tengah, Lalu Rinjani, mengatakan kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi, khususnya terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Kedul di Desa Mekar Bersatu, Lombok Tengah.
“Dengan temuan ini, kami akan melakukan evaluasi terhadap dapur SPPG Gunung Kedul,” ujar Lalu Rinjani.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Lombok Tengah telah mengambil sampel menu MBG yang dikonsumsi para siswa untuk diperiksa di laboratorium.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk membantu mengetahui penyebab munculnya keluhan kesehatan yang dialami para siswa.
Terkait kemungkinan pemberian sanksi terhadap dapur SPPG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut, Lalu Rinjani mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, keputusan mengenai kemungkinan penghentian sementara operasional dapur maupun bentuk sanksi lainnya masih menunggu hasil evaluasi dan keputusan BGN.
“Untuk sanksi, kami masih menunggu keputusan dari BGN,” katanya.
Hingga kini, pihak terkait masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan yang dialami 353 siswa tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi salah satu bahan penting untuk menentukan penyebab kejadian sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program MBG agar keamanan makanan bagi para siswa tetap terjamin. |df
