‎Derita Kekeringan Tahunan di Labulia: 60 KK Batu Asak Gantungkan Harapan pada BPBD NTB

LOMBOK TENGAH – Krisis air bersih akibat musim kemarau seolah menjadi penderitaan tahunan yang tak kunjung usai bagi masyarakat di Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Salah satu wilayah yang merasakan dampak paling ekstrem adalah kawasan Dusun Labulie, tepatnya di Gubug Batu Asak.

‎Di tengah keputusasaan warga mencari air yang layak konsumsi, armada tangki dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya turun gunung melakukan pendistribusian air bersih di wilayah tersebut. Kehadiran tim tanggap darurat ini disambut antusias oleh puluhan warga yang langsung berjejer membawa ember dan jerigen.

‎Tokoh masyarakat setempat, Ahmad Sahirudin atau yang akrab disapa Amak Bilal, menuturkan bahwa krisis air di wilayahnya bukanlah fenomena baru, melainkan penderitaan langganan setiap kali musim kemarau tiba.

‎Menurut penuturan Amak Bilal, di kawasan Gubug Batu Asak sebenarnya sudah terdapat beberapa titik sumur bor yang dibangun. Namun, infrastruktur tersebut tidak mampu menjawab persoalan warga.

‎”Di sini (Batu Asak) ada beberapa sumur bor, tapi sayang airnya asin. Selain rasanya yang tidak layak konsumsi, ketika datang musim kemarau, debit air di sumur bor juga ikut berkurang drastis,” ungkap Amak Bilal di sela-sela proses pembagian air, Kamis (17/09/2026).

‎Khusus di titik dropping air pagi ini di Gubug Batu Asak, setidaknya terdapat sekitar 60 Kepala Keluarga (KK) yang terpaksa menggantungkan kebutuhan air harian mereka pada bantuan tangki dari pemerintah.

‎Lebih memprihatinkan lagi, krisis hidrometeorologi ini tidak hanya membelenggu Batu Asak semata. Berdasarkan data di lapangan, kondisi geografis yang tandus membuat wilayah-wilayah di sekitarnya juga mengalami nasib serupa.

‎”Di sekitar Gubug Batu Asak ini juga ada Gubug Paku Papak, Aik Paek, Gubuk Bagek Panjeng, seputaran Gubuk Batu Tinggang, hingga Gubuk Batu Bawik yang juga kena masalah yang persis sama,” rincinya.

‎Langkah taktis dan responsif dari BPBD Provinsi NTB yang mendistribusikan pasokan air bersih sangat disyukuri oleh warga setempat. Bantuan ini menjadi oase penyejuk untuk memenuhi kebutuhan mendesak seperti minum, memasak, dan sanitasi dasar.

‎Kendati demikian, potret kekeringan ekstrem di Labulia ini harus menjadi catatan serius bagi instansi terkait di lingkungan Pemkab Lombok Tengah maupun Pemprov NTB. Masyarakat setempat berharap pemerintah tidak sekadar datang membawa air tangki setiap tahun, melainkan mulai memikirkan solusi struktural dan infrastruktur penyediaan air bersih permanen yang tawar dan mengalir sepanjang tahun untuk memutus mata rantai kekeringan di wilayah tersebut. |ans

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *