LOMBOK TENGAH – Kondisi Sirkuit 459 Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mendapat sorotan dari berbagai pihak. Sebab, selain tidak ada event ajang balapan, khususnya motocross, juga karena kondisinya mulai tak terurus dan terkesan terbengkalai.
Anggota DPRD Dapil Batukliang-BKU Loteng, Ki Agus Azhar menyatakan, keberadaan Sirkuit 459 merupakan program bupati yang gagal. Hal itu karena sirkuit ini tidak terencana dengan baik, bahkan tidak terurus, serta kondisinya sudah sangat memprihatinkan.
“Kalau terencana dengan baik, tentu kondisinya tidak seperti sekarang. Harusnya Pemda memperbanyak event disana,” kata Ki Agus Azhar, kemarin.
Ia menegaskan, jika memang Sirkuit 459 tidak digunakan lagi, pihaknya menyarankan agar Pemda memberikan pengelolaan pada masyarakat setempat. Sehingga lahan sirkuit tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi warga sekitar.
“Kan lumayan bisa kita pakai untuk menanam singkong atau lainnya. Jadi lahannya bisa memberikan manfaat bagi warga,” tegasnya.
Menurutnya, akan lebih bermanfaat kalau lahan sirkuit dikelola dari pada lahan dibiarkan menganggur. Tapi tidak semuanya yang digarap. Hanya area-area yang tidak terkena lintasan sirkuit saja. Kalau nantinya ada event balapan, lahan bisa digunakan lagi untuk ajang balapan, karena area lintasan sirkuit tidak digarap.
Sementara itu, anggota DPRD, Murdani menyatakan, sejak awal Pemda telah salah langkah dalam pemanfaatan ruang yang notabene di sebagain besar Desa Lantan adalah hutan. Pasalnya, lahan hutan itu merupakan siklus air yang membantu menyerap dan menyimpan air, khusunya air hujan.
“Ini kan kawasan hutan, jadi tidak tepat bila pemanfaatan hutannya dengan merubah fungsi kawasan hutan, apalagi bangun sirkuit dengan melakukan pembabatan hutan. Ini tentu ada perubahan daya dukung serta daya tampung kawasan, sehingga ketika terjadi hujan dengan intensitas sedang maupun tinggi jelas dan secara pasti akan mengakibatkan banjir,” terangnya.
Mantan Direktur WALHI NTB ini menyebutkan, dengan dibangunnya Sirkuit 459 Lantan tersebut, ia tidak pungkiri ada dampak ekonomi dari perhelatan motorcross, baik bagi Pemda maupun masyarakat Lantan dan sekitarnya. Namun tetap harus dipertimbangkan kembali juga soal daya dukung dan daya tampung lingkungan untuk memastikan keberlanjutannya.
“Perlu jadi pertimbangan bupati bahwa dampak ekonomi di Desa Lantan tidak berbanding lurus dengan dampak kerusakan ekologis yang ditimbulkan,” tandasnya. |df
