LOMBOK TENGAH – UPTD BLUD Puskesmas Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (loteng) menggelar pembekalan kader implementasi lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tahun 2026. Di mana, STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan sesuai Permenkes Nomor 3 Tahun 2014.
Kepala Puskesmas Kuta, Zainal Abidin, SKM mengatakan, pembekalan tersebut bertujuan untuk meningkatkan perilaku pola hidup bersih dan sehat (PHBS) secara mandiri, dalam rangka menurunkan penyakit berbasis lingkungan, mewujudkan desa/kelurahan sehat, sehingga mencapai derajat Kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.
“Lima pilar STBM yang dijelaskan pada acara itu yakni, stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga,” kata Zainal Abidin, Rabu (29/04/2026).
Sementara itu, Petugas Tenaga Sanitasi Lingkungan (TSL) UPTD BLUD Puskesmas Kuta, Lalu Saiful Bahri, ST, menjelaskan, STBM dan penyakit Pertusis merupakan dua hal yang berkaitan. Di mana, Pertusis atau dikenal sebagai batuk rejan atau “batuk 100 hari” adalah infeksi saluran pernapasan sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.
“Penyakit ini ditandai dengan batuk hebat, parah dan terus-menerus yang sering diakhiri dengan suara tarikan napas tinggi (melengking). Pertusis sangat berbahaya, bahkan berisiko kematian, bagi bayi dan balita,” terangnya.
Disisi lain, STBM membantu mencegah penularan penyakit, termasuk pertusis, melalui peningkatan kebersihan dan sanitasi. Perilaku STBM untuk pencegahan Pertusis bias dilakukan dengan CTPS, tidak meludah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta ventilasi rumah yang baik.
Menurutnya, penyebab dan penularan disebabkan bakteri Bordetella Pertussis. Bakteri ini menyebar melalui percikan air liur (droplet) saat penderita batuk atau bersin. Gejala awalnya menyerupai flu biasa (bersin, demam ringan), yang kemudian berkembang menjadi batuk parah selama berminggu-minggu
Sedangkan pada bayi, Pertusis bisa menyebabkan apnea (henti napas) atau sianosis (wajah membiru). Sehingga pencegahan terbaik adalah dengan imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) pada anak secara tepat waktu.
“Menambahkan pengobatan dokter akan memberikan antibiotik untuk mengurangi keparahan gejala dan mencegah penyebaran bakteri,” pungkasnya. |df
