LOMBOK TENGAH – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah (Dikes Loteng) menjalin komitmen kerjasama dengan organisasi non-pemerintah, Summit Institute of Development (SID) dalam program pemberian Multiple Micronutrient Supplement (MMS) bagi ibu hamil. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi, sekaligus menekan angka stunting dan kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Kepala Dikes Loteng, dr. Mamang Bagiansyah melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas), dr. Nasrullah menjelaskan, MMS merupakan suplemen vitamin khusus bagi ibu hamil yang dirancang sebagai pengganti Tablet Tambah Darah (TTD). Suplemen ini mengandung berbagai mikronutrien penting yang telah terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan perkembangan kognitif bayi sejak dalam kandungan.
“Berdasarkan hasil penelitian, pemberian MMS dapat meningkatkan kemampuan kognitif bayi hingga 18 persen. Juga efektif mencegah anemia pada ibu hamil, serta menurunkan resiko bayi lahir dengan berat badan rendah,” kata dr. Nasrullah, Rabu (06/05/2026).
Dijelaskannya, program ini akan menyasar sekitar 3.393 ibu hamil di Loteng, yang tersebar di 18 lokus Puskesmas. Sasaran tersebut merupakan bagian dari seleksi ketat, mengingat jumlah ibu hamil diperkirakan mencapai lebih dari 20 ribu orang per tahun.
“Ibu hamil yang akan diprioritaskan adalah mereka yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan kekurangan mikronutrien. Ini penting untuk mencegah resiko BBLR yang menjadi salah satu pemicu utama stunting,” jelasnya.
Menurutnya, pelaksanaan program direncanakan dimulai dengan tahapan persiapan pada akhir Mei, dilanjutkan proses seleksi peserta pada Juli hingga September 2026 mendatang. Pemberian MMS akan dilakukan mulai Juli 2026 dan dipantau hingga Mei 2027 untuk mengevaluasi dampaknya.
Pihaknya menegaskan, program ini tidak hanya berfokus pada pemberian suplemen, tetapi juga melibatkan tenaga lapangan untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap ibu hamil penerima manfaat.
“Harapannya, kesehatan ibu tetap terjaga, bayi lahir sehat dan angka kematian ibu serta bayi dapat ditekan. Dengan begitu, kita juga bisa menurunkan angka stunting secara signifikan,” terangnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, hasil dari program ini akan dievaluasi pada tahun 2027. Jika terbukti efektif, pemerintah daerah berencana mengusulkan agar MMS dapat menggantikan TTD secara menyeluruh, sehingga seluruh ibu hamil di Loteng dapat memperoleh manfaatnya.
“Kalau hasilnya baik, ke depan kita harapkan semua ibu hamil bisa mendapatkan MMS, tidak terbatas hanya pada 3.393 orang saja,” pungkasnya. |df
