Puncak Hultah NWDI, UAS dan TGB Serukan Pendidikan Berbasis Keteladanan dan Perjuangan

LOMBOK TIMUR – Puncak Hultah ke-91 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sekaligus Haul ke-29 Almaghfurulahu Maulana Asy-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di Pancor, Lombok Timur, Ahad (13/9/2026), menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali meneguhkan semangat pendidikan dan perjuangan.

Ribuan jamaah dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan yang mengusung tema “Teguhkan Iman Takwa, Gerak NWDI untuk Kemajuan Ummat dan Keunggulan Bangsa” tersebut.

Dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Ustadz Abdul Somad (UAS) menekankan pentingnya peran orang tua dalam membangun pendidikan anak. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya mengantarkan anak ke sekolah atau perguruan tinggi.

UAS kemudian mengisahkan perjalanan Tuan Guru Abdul Madjid yang mengantarkan putranya menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah.

Perjalanan tersebut ditempuh melalui jalur laut dengan menghadapi ombak dan gelombang hingga akhirnya sampai di Tanah Suci. Sesampainya di Makkah, Tuan Guru Abdul Madjid mencari guru terbaik dan menyerahkan pendidikan anaknya kepada Syekh Hasan Al-Mashab.

Dari kisah tersebut, UAS mengingatkan para orang tua agar benar-benar mendekatkan anak kepada guru, ulama dan lingkungan pendidikan yang baik.

“Jangan hanya sekadar mengantar, mendaftarkan, mendapatkan kartu mahasiswa lalu pulang. Dekatkan anak dengan syekh, dengan guru,” pesan UAS.

UAS juga mengajak masyarakat memikirkan warisan yang akan ditinggalkan bagi generasi berikutnya.

Menurutnya, warisan tidak selalu berbentuk harta. Ilmu, lembaga pendidikan, keteladanan dan generasi yang meneruskan kebaikan merupakan bentuk warisan yang jauh lebih bermanfaat.

“Jangan mati sebelum meninggalkan heritage. Apa yang bisa kita tinggalkan untuk orang setelah kita?,” ujarnya.

UAS juga menegaskan bahwa Hultah dan Haul tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial. Peringatan tersebut harus menjadi ruang mempererat silaturahmi dan memperkuat persaudaraan.

Ia bahkan menyinggung persahabatannya dengan TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi. Menurut UAS, persahabatan sejati akan terlihat ketika seseorang menghadapi perbedaan pendapat.

Ia mengaku bersyukur dapat bersahabat dengan TGB tanpa saling menyerang ataupun mengeluarkan kata-kata kasar.

“Ketika kita bisa berjalan bersama di jalan Allah SWT, berteman dan bersahabat di dunia, mudah-mudahan bersaudara hingga ke surga,” terangnya.

Sementara itu, TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi mengajak seluruh jamaah, khususnya murid dan sahabat perjuangan Maulana Syaikh, untuk menjaga sekaligus meneruskan warisan perjuangan yang telah ditinggalkan.

Menurut TGB, keberkahan perjuangan NWDI akan terus mengalir apabila generasi saat ini tidak hanya mengenang guru, tetapi juga meneruskan apa yang telah diwariskan.

TGB menekankan bahwa salah satu asas pendidikan yang dijalankan Maulana Syaikh adalah membangun manusia, bukan sekadar mentransfer pengetahuan.

Konsep tersebut, kata TGB, sejalan dengan misi Rasulullah SAW dalam mendidik umat. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ilmu secara umum, tetapi mendidik para sahabat satu demi satu sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

TGB menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW mendidik Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, keluarga beliau, serta para sahabat secara bertahap.

“Pendidikan bukan hanya mengajar membaca, tetapi membangun jiwa manusia,” tegas TGB.

Pesan UAS dan TGB tersebut menjadi penegasan bahwa Hultah dan Haul Maulana Syaikh harus menjadi momentum untuk bergerak.

Warisan perjuangan tidak cukup hanya dikenang melalui peringatan tahunan. Warisan itu harus diwujudkan melalui pendidikan, keteladanan, penguatan persaudaraan dan pengabdian kepada umat serta bangsa. |ari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *