LOMBOK TENGAH – Sebanyak 769 UMKM mencatatkan total omzet Rp2.940.564.568 atau sekitar Rp2,94 miliar selama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di The Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Capaian itu, berasal dari aktivitas perdagangan di berbagai titik komersial, baik di dalam maupun di luar area Pertamina Mandalika International Circuit, yang membuka akses pasar bagi pelaku usaha selama penyelenggaraan ajang motorsport internasional tersebut. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) terus mendorong keterlibatan pelaku usaha dalam penyelenggaraan event internasional untuk memperluas akses pasar bagi UMKM.
Dari total 769 UMKM yang tercatat berpartisipasi dalam Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, ekosistem komersial di kawasan Pertamina Mandalika International Circuit melibatkan 310 tenant, yang terdiri atas 300 UMKM dan 10 merek nasional (national brand).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 180 merupakan UMKM Dinas, 73 tenant berada di area Festival, 47 tenant di area grandstand, serta masing-masing lima tenant di area Nusantara dan Paddock Cafe. Partisipasi ini turut mencakup 34 UMKM binaan InJourney Group dan 30 UMKM binaan Pertamina di area Festival, serta pelaku usaha dari 10 kabupaten/kota yang berpartisipasi dalam Lombok Sumbawa Festival (LSF).
Sementara di luar kawasan sirkuit, sebanyak 459 UMKM turut meramaikan aktivitas perdagangan di berbagai titik, termasuk 189 UMKM di area Bazaar Mandalika dan Mandalika Street Food Festival (MSFF) Vol. II serta 270 UMKM di area parkir dan sejumlah titik di sekitar sirkuit.
Direktur Komersial dan Marketing ITDC, Febrina Mediana, menyampaikan bahwa keterlibatan UMKM dalam Pertamina Grand Prix of Indonesia merupakan bagian dari upaya ITDC untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan kesiapan pelaku usaha lokal dalam memanfaatkan peluang dari kegiatan berskala nasional maupun internasional.
“Ke depan, ITDC akan mendorong peningkatan kapasitas UMKM, mulai dari kualitas produk, kapasitas produksi, pengemasan, hingga akses pemasaran. Dengan kesiapan usaha yang semakin baik, pelaku UMKM diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas dan memanfaatkan peluang ekonomi dari berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan The Mandalika,” ujar Febrina.
Dari total omzet yang tercatat, kontribusi terbesar berasal dari area Commercial Booth sebesar Rp1.125.167.280 atau 38,3%. Selanjutnya, UMKM Binaan menyumbang Rp848.999.700 atau 28,9%, UMKM Dinas sebesar Rp715.013.000 atau 24,3%, serta Paddock Area sebesar Rp251.384.588 atau 8,5%.
Aktivitas penjualan mencapai puncaknya pada hari ketiga penyelenggaraan, dengan omzet sekitar Rp1,638 miliar atau 55,7% dari total omzet selama tiga hari. Dari sisi produk, Local Food menjadi kategori dengan kontribusi terbesar, yakni 29,7%, diikuti Coffee sebesar 22,9%, minuman sebesar 20%, Snack sebesar 16,8%, dan Western Food sebesar 10,7%. Data tersebut menunjukkan besarnya kontribusi produk kuliner terhadap aktivitas perdagangan selama event berlangsung.
Sejumlah tenant juga mencatat nilai penjualan yang menonjol seperti Soto Seger Boyolali, Batagor Sultan dan Bakso Maulana Barokah.
Selain aktivitas perdagangan di area komersial, ITDC juga menghadirkan Mandalika Street Food Festival (MSFF) Vol. 2 pada 9–10 Oktober 2026 di kawasan Bazaar Mandalika, The Mandalika. Mengusung konsep community-based tourism bertema tropis, kegiatan ini menjadi ruang bagi pelaku usaha dan komunitas untuk memperkenalkan produk kuliner serta kreativitas daerah kepada pengunjung.
Melalui penyediaan ruang komersial dan keterlibatan pelaku usaha dalam event internasional, ITDC terus mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang mendukung aktivitas pariwisata di The Mandalika. Upaya ini diharapkan dapat memperluas kesempatan usaha bagi UMKM sekaligus meningkatkan keterhubungan antara penyelenggaraan event, aktivitas wisata, dan perekonomian daerah. |df
