MATARAM – Kabupaten Lombok Tengah kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai lumbung pangan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Lombok Tengah mencatat luas panen padi terbesar di NTB, yakni 78.639 hektare, dengan total produksi mencapai 421.941 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan produktivitas 53,66 kuintal per hektare.
Capaian ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam memperkuat ketahanan dan swasembada pangan daerah sebagai dukungan nyata terhadap program nasional.
Secara keseluruhan, produksi padi NTB tahun 2025 mencapai 1.698.283 ton GKG, meningkat 16,85 persen dibandingkan tahun 2024.
Kepala Dinas Kominfotik NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik menyampaikan, peningkatan produksi tersebut didorong oleh naiknya luas panen, produktivitas, serta sinergi lintas sektor dalam mendukung sektor pertanian.
“Keberhasilan ini juga ditopang oleh berbagai program strategis, seperti optimasi lahan, penggunaan benih unggul bersertifikat, penyaluran pupuk subsidi sesuai RDKK, serta penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di tingkat petani sebesar Rp6.500/kg,” kata Ahsanul Khalik.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Hj. Eva Dewiyani menegaskan, pada tahun 2026 penguatan sektor pertanian akan terus dilakukan melalui optimalisasi seluruh potensi daerah, sebagai bagian dari upaya menyelaraskan program swasembada pangan Pemerintah Pusat.
“Dengan kontribusi produksi terbesar di NTB, Lombok Tengah optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah, demi mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional,” pungkasnya. |red
