Bunda Literasi NTB Ajak Pelajar Loteng Asah Berpikir Kritis Lewat Menulis

LOMBOK TENGAH – Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta M. Iqbal, mengajak para pelajar untuk membangun kemampuan berpikir kritis melalui kegiatan literasi, khususnya menulis.

Hal tersebut disampaikan Sinta saat menghadiri kegiatan Pelatihan dan Praktik Menulis Cerpen bagi Pelajar yang digelar di Sekretariat Literasi Ulul Azmi (LUAZ) Foundation, Desa Penujak, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), yang diikuti puluhan pelajar tingkat SMP dan SMA se-Loteng, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, kemampuan menulis tidak hanya penting untuk menghasilkan sebuah karya, tetapi juga menjadi sarana melatih pelajar dalam memahami persoalan, menyusun gagasan, serta menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

“Kita berharap adik-adik ini memiliki kemampuan untuk memahami dan berpikir secara kritis, salah satunya dengan menulis. Sisi positifnya, apa pun yang kalian tulis akan terus bertahan. Namun sisi negatifnya, kalau kalian menulis hal yang tidak baik, itu juga akan bertahan abadi di dunia digital,” kata Sinta.

Ia mengingatkan para pelajar agar bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, jejak digital dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan ketika seseorang memasuki dunia kerja.

“Saat mencari pekerjaan nanti, sosial media kalian akan diperiksa. Cara kalian berpikir terhadap suatu isu menjadi penilaian perusahaan. Jadi, berhati-hatilah betul dengan apa yang kalian tulis,” tegasnya.

Sinta menambahkan, kemampuan menulis menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Setiap tulisan yang dibuat di ruang digital, kata dia, dapat menjadi bagian dari rekam jejak seseorang dalam jangka panjang.

Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk membangun kebiasaan membaca dan mencatat sebagai bagian dari proses memperkaya pengetahuan.

“Kalian harus jadi anak muda yang tidak hanya aktif mengonsumsi informasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan karya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Lalu Ahyat mengatakan, pelatihan menulis tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kebiasaan sebagian generasi muda yang saat ini lebih banyak membuat konten singkat di media sosial dibandingkan menghasilkan karya tulis.

Baginya, kemampuan menulis tetap memiliki posisi penting meskipun perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat.

“Menulis itu sangat penting pada saat ini. Mungkin sudah ada AI, tapi AI belum mampu untuk menghadirkan emosi dan perasaan di dalam sebuah karya. Keterampilan itu hanya bisa dilakukan oleh manusia dan harus dimiliki,” terangnya.

Perwakilan Balai Bahasa Provinsi NTB, Toni Syamsul Hidayat menyampaikan, peningkatan literasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk sekolah dan komunitas masyarakat.

“Upaya memperkuat ekosistem literasi harus dilakukan melalui berbagai intervensi secara berkelanjutan, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Bunda Literasi Loteng, Nurul Aini Pathul Bahri menambahkan, penguatan literasi juga diarahkan pada peningkatan kapasitas pengelola perpustakaan.

“Terkait perpustakaan kami akui masih kurang. Oleh karena itu, dalam waktu dekat ada program pelatihan pustakawan bagi teman-teman guru di sekolah maupun perpustakaan desa,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan lomba bercerita antara orang tua dan anak tingkat taman kanak-kanak (TK) yang akan dirangkaikan dengan permainan tradisional.

Kegiatan literasi yang digelar LUAZ Foundation tersebut tidak hanya melibatkan pelajar. Sebanyak 25 penggiat media sosial komunitas literasi dan 25 guru PAUD turut terlibat melalui praktik membaca nyaring atau read aloud.

Kegiatan tersebut juga melibatkan tokoh masyarakat Desa Penujak sebagai bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam membangun ekosistem literasi di Loteng. |ari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *